Selasa, 01 Januari 2013

cerita orang pinggiran



Cerita Orang Pinggiran
Cerita ini hanya sepenggal kisah dari sisa hidup kami dari kerasnya kehidupan. Kenyataan yang membawa semangat kami untuk terus bertahan, untuk terus melangkah walaupun kerikil tajam terus menghujani telapak kaki. Kami tak pernah berfikir untuk menikmati hidangan diatas meja, dengan berbagai banyak menu pilihan yang bisa kita pilih, tapi kami cukup mengisi perut seadaanya, itu sudah membuat kami lega. Lidah kami terbiasa dengan makanan yang tak berasa, perut kami juga terbiasa dengan suara  nyanyian duka.  mungkin lebih baik potong saja lidah ini Tuhan, atau perut kami ganti saja dengan mahkluk ciptaanmu yang paling kecil. Agar rasa lapar ini disaat waktunya, kami cukup mencari sebutir nasi. Mungkin dalam pemikiran kami berkata,” hidup mewah dengan semua fasilitas terpenuhi atau hidup miskin sebatang kara tanpa sanak saudara, menurut kami sama saja, tak ada bedanya. Sama-sama dikemudian hari juga mati. Yang membedakan hanya satu, karena kami tidak dilahirkan menjadi orang kaya. Iya… hidup ini memang tak adil, kenapa keadilan selalu berpihak kepada yang berkuasa? Kenapa yang lemah selalu menjadi tempat untuk penindasan? Apa artinya hidup semua ini? Kami dilahirkan juga sama seperti mereka, dari orang tua yang kita cintai dan kita sayangi. bukan dari batu, pohon atau benda lain seperti sampah yang tak ada arti. Kami juga manusia seperti mereka, diberi otak untuk berfikir, diberi tangan dan kaki untuk menggerakkan sesuatu yang bermanfaat, tapi kami sudah berusaha untuk menjadi lebih baik, tetap saja masih seperti biasanya, hidup selalu berpindah tempat, rumah hanya beralaskan kardus tipis yang sudah bau, atap dinding sebagai penyangga bahu jalan, selimut cukup ditemani dengan koran bekas, makan pun tak berharap selalu ada. Kadang sampai beberapa hari perut kami tak mengunyah apapun, jika sampai tak tertahankan, kami berusaha mencari sesuatu disekitar yang bisa dimakan untuk menahan rasa sakit apapun itu caranya.
Fajar hari telah lenyapkan kegelapan. Kabut putih bergumpal tebal menghalangi pemandangan. Suara desakan orang melintas mengusik telinga di pagi hari. Matahari pun tak terasa mengintip tidur kami dengan sinarnya yang menembus dari celah-celah dinding. Dengan selembar koran bekas yang tertiup terbawa arus angin kami semua terbangun. Kami mulai beraktifitas selayaknya orang bekerja. Tapi yang menjadi perbedaan antara kami dan mereka-mereka yang kehidupanya jauh di atas, tak kan pernah mau bekerja seperti kami yang serabutan demi kelangsungan hidup. Teruslah berjalan, kami semua yakin pasti ada sesuatu didepan yang sudah menunggu, Jarak tak mengurungkan niat kami untuk terus melangkah. Sesampainya di perempatan lampu merah, kami pun beraksi dengan kemampuan seadanya dan alat gitar tua yang menjadi sumber penghidupan. kami harus menunggu rambu-rambu berwarna merah, agar pengemudi dijalan bisa berhenti dan kami pun mencoba untuk menghibur. Setelah berwarna merah, kami bertiga sebut saja Poldi, Yuni dan Boy mencoba menghibur para pengemudi yang memberhentikan kendaraanya. Kami pun mendekat ke semua pengemudi dijalan, dan melantunkan lagu kebanggaan dari kami yang berjudul punk rock jalanan. “teruslah kau petik gitarnya kawan” hati kecilku berkata demikian. Dengan senyum sapa kami pengemudi ada yang mendengarkan lagu kami, ada juga yang langsung memberi seikhlasnya, dan ada juga yang tak memberi. Kami cukup terima apa pun resikonya. Karena kami hanya sekedar menghibur bukan meminta. Prinsip hidup kami tak ada yang namanya pengemis, kalau mau mendapatkan uang harus bekerja apapun itu caranya yang terpenting bagi kami hal yang positif dan tak  merugikan orang disekitar. Walau kami hanya rakyat kecil tapi kami semua punya mimpi dan tujuan. Sesudah menghibur orang disekitar, kami berhenti sejenak di pojokan halte bus berkumpul dan beristirahat, sambil menghitung recehan yang tak seberapa. Kami terus bersemangat, walau keringat menghujani tubuh kami, dan rasa lapar semakin mencekik perut. Ditambah lagi udara yang semakin panas, asap mobil yang tak karuan, iya… beginilah kami, tak ada tuntutan yang bisa kita tuntut, mau marah, mau teriak, mau menganggap ini tak adil, tak kan ada yang memperdulikan kami.
Setelah istirahat cukup, kami melanjudkan perjalanan kembali. Setiap gang, setiap sudut rumah kami singgahi, bahkan di perumahan-perumahan tak luput jadi sasaran kami. Kadang disetiap rumah ada penjaga yang mengawasi, kami diusir secara tak berpendidikan, selalu dilecehkan kesana-kemari, dan kami cukup menundukkan kepada sambil bilang “terima kasih”. Tapi mental kami tak kan surut sampai disini, selalu mencari sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Jadi kuli panggul, mencari kertas-kertas bekas atau benda logam yang sudah tak digunakan yang terpenting bisa makan untuk hari ini. Beginilah kehidupan kami, selalu bertentangan dengan kerasnya kehidupan. Selalu mencari yang bisa untuk dimakan. Hari esok semoga menjadi lebih baik. Dan akhirnya satu hari ini, kami bisa mengumpulkan uang lima belas ribu rupiah. Cukup buat makan kami bertiga. Hanya saja makan sama nasi dan lauk satu ditambah air putih seadanya. Sisanya kami tabung untuk persediaan jika dikemudian hari kami tak mendapatkan uang. Dan sampai seterusnya kami hidup seperti ini tak da perubahan, yang ada hanya rasa sakit, rasa perih. Semoga Tuhan selalu memberi petunjuk untuk kami…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar